Pengantar Kajian Aqidah

PENGANTAR

AL-UKHUWAH.COM – Arti akidah secara etimologi adalah sebagai berikut. Akidah berasal dari kata ’aqd yang berarti pengikatan. A’taqattu kadza artinya “saya beritikad begini”. Maksudnya, saya mengikat hati terhadap hal tersebut. Akidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan, “Dia mempunyai akidah yang benar,” berarti akidahnya bebas dari keraguan.

Akidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.

Adapun makna akidah secara syara’ adalah sebagai berikut. Yaitu, iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan kepada hari akhir, serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.

URGENSINYA

Syariat terbagi menjadi dua: itiqadiyah dan amaliyah.

I’tiqadiyah adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal, seperti i’tiqad (kepercayaan) terhadap rububiyah Allah dan kewajiban beribadah kepada-Nya, juga beritikad terhadap rukun-rukun iman yang lain. Hal ini disebut ashliyah.

Sedangkan amaliyah adalah segala apa yang berhubungan dengan tatacara amal. Seperti shalat, zakat, puasa dan seluruh hukum-hukum amaliyah. Bagian ini disebut far’iyah atau cabang agama, karena ia dibangun diatas i’tiqodiyah. Benar dan rusaknya amaliyah tergantung dari benar dan rusaknya i’tiqadiyah.

Maka, akidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT (yang artinya),

“…Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh, dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi: 110).

“Dan, sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: ‘Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi’.” (Az-Zumar: 65).

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (Az-Zumar: 2-3).

Allah SWT berfirman,

“Dan, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 36).

Dan, pada awal dakwahnya setiap rasul selalu mengucapkan, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (Al-A’raf: 59, 65, 73, 85).

Pernyataan tersebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Saleh, Syuaib, dan seluruh rasul a.s. Selama 13 tahun di Mekah–sesudah bi’tsah–Nabi saw. mengajak manusia kepada tauhid dan pelurusan akidah, karena hal itu merupakan landasan bangunan Islam. Para dai dan para pelurus agama dalam setiap masa telah mengikuti jejak para rasul dalam berdakwah. Sehingga, mereka memulai dengan dakwah kepada tauhid dan pelurusan akidah. Setelah itu mereka mengajak kepada seluruh perintah agama yang lain.

Ketahuilah bahwa perkara terbesar berkenaan dengan diutusnya para rasul dari yang pertama hingga terakhir adalah perintah untuk ibadah kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya (Tauhid), serta memperingatkan dan melarang peribadatan kepada selain Allah (syirik dan tandid). Hal ini bisa dilihat di dalam firman Allah berikut ini

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ [الأنبياء: 25]

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku“.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ [النحل: 36]

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”,

Demikianlah al-Qur’an dalam berbagai pembicaraan dan cerita yang dikemukakannya selalu menjelaskan bahwa tauhid adalah persoalan pokok yang diserukan oleh semua rasul. Setelah itu, baru turun hukum-hukum dan syari’at, turun penjelasan tentang halal dan haram. Karena itulah, Allah memerintahkan semua manusia untuk melakukan ibadah itu, bahkan penciptaan manusia adalah hanya untuk beribadah kepada Allah saja, sebagaimana firman Allah;

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ [الذاريات 65]

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Kata menyembah-Ku, pada ayat di atas maksudnya adalah mentauhidkan-Ku. Adapun Tauhid itu sendiri berarti mengesakan Allah dalam peribadatan. Di dalam hadits disebutkan,

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ قَالَ كُنْتُ رَدِيْفُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ فَقَالَ لِيْ: (يَا مُعَاذُ أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلىَ اللهِ؟ قُلْتُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: حَقُّ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلاَ يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئاً، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً) [ متفق عليه].

Dari Mu’adz bin Jabal ra, ia berkata; Aku pernah dibonceng oleh Rasulullah di atas himar, lalu beliau bersabda; “Hai Mu’adz, tahukan engkau apa hak Allah atas hamba-Nya, dan apa hak hamba atas Allah?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu” Beliau bersabda, “Hak Allah atas hambanya adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan hak hamba atas Allah, ialah Dia tidak akan mengadzab orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu” (Muttafaq ‘alaih)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ibadah adalah mentaati Allah dengan menjalankan apa yang Dia perintahkan sesuai dengan tuntunan para rasul”. Beliau juga mengatakan, “Ibadah adalah suatu nama yang menyeluruh untuk segala sesuatu yang dicintai dan diridlai oleh-Nya, baik berupa perkataan, amal dhahir maupun bathin”.

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ [الزمر: 65]

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.

Lihatlah wahai saudaraku yang mulia, bahwa ini adalah pernyataan dan peringatan dari Rasulullah saw dan para rasul terdahulu.

إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ [النساء: 48]

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (an-Nisa’:48)

إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة [المائدة: 72]

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, (al-Maidah:72)

Syirik itu akan merusak nilai amal, menghapuskan pahalanya, menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam, mengekalkannya di dalam neraka jahanam, dan menjadikan syafaat dari orang lain tidak ada manfaatnya. Setiap orang yang menetapkan ada sekutu bagi Allah dalam hal uluhiyyah, rububiyyah, salah satu kekhususan bagi-Nya dan sifat-sifat-Nya maka ia adalah musyrik.

Ayat-ayat di atas dan yang senada, yang jumlahnya banyak, menunjukkan bahwa segala amal tidak diterima jika tidak bersih dari syirik. Karena itulah, perhatian Nabi saw. yang pertama kali adalah pelurusan akidah. Dan, hal pertama yang didakwahkan para rasul kepada umatnya adalah menyembah Allah semata dan meninggalkan segala yang dituhankan selain Dia.

Untuk memahami konsep ini secara utuh, maka kita harus terlebih dahulu memahami pembagian tauhid, yaitu tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Asma’ wa Shifat

SUMBER-SUMBER ‘AQIDAH YANG BENAR

Akidah adalah tauqifiyah. Artinya, tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil syar’i, tidak ada medan ijtihad dan berpendapat di dalamnya. Karena itulah, sumber-sumbernya terbatas kepada apa yang ada di dalam Alquran dan sunah. Sebab, tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah, tentang apa-apa yang wajib bagi-Nya dan apa yang harus disucikan dari-Nya, melainkan Allah sendiri. Dan, tidak seorang pun, sesudah Allah, yang mengetahui tentang Allah, selain Rasulullah saw. Oleh karena itu, manhaj salafus saleh dan para pengikutnya dalam mengambil akidah terbatas pada Alquran dan sunah.

Maka, segala apa yang ditunjukkan oleh Alquran dan sunah tentang hak Allah, mereka mengimaninya, meyakininya, dan mengamalkannya. Dan, apa yang tidak ditunjukkan oleh Alquran dan sunah, mereka menolak dan menafikannya dari Allah. Karena itu, tidak ada pertentangan di antara mereka di dalam i’tiqad. Bahkan, akidah mereka adalah satu dan jamaah mereka juga satu. Karena, Allah sudah menjamin orang yang berpegang teguh dengan Alquran dan sunah rasul-Nya dengan kesatuan kata, kebenaran akidah dan kesatuan manhaj. Allah SWT berfirman (yang artinya), “Dan, berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, ….” (Ali Imran: 103).

“Maka, jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123).

Karena itulah, mereka dinamakan firqah najiyah (golongan yang selamat). Sebab, Rasulullah saw. telah bersaksi bahwa merekalah yang selamat, yaitu ketika memberitahukan bahwa umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan yang kesemuanya di neraka, kecuali satu golongan. Ketika ditanya tentang yang satu itu, beliau menjawab, “Mereka adalah orang yang berada di atas ajaran yang sama dengan ajaranku pada hari ini, dan para sahabatku.” (HR Ahmad).

Kebenaran sabda Rasulullah saw. tersebut telah terbukti ketika sebagian manusia membangun akidahnya di atas landasan selain kitab dan sunah, yaitu di atas landasan ilmu kalam dan kaidah-kaidah manthiq yang diwarisi dari filsafat Yunani dan Romawi. Maka, terjadilah penyimpangan dan perpecahan dalam akidah yang megnakibatkan pecahnya umat dan retaknya masyarakat Islam. (contohnya fenomena pengangkatan Isa sebagai Tuhan, juga fenomena wihdatul wujud).

, ,